Jumat, 06 April 2012

Tentang Kawat Gigi


Assalamu’alaikum kawan-kawan
Kali ini aku mau share sesuatu nih,
Akhirnya, setelah tiga tahun lebih aku hidup bersama kawat gigi, dilepas juga pada tanggal 8 Maret lalu. Bisa makan tanpa nyangkut-nyangkut lagi. nah, mungkin ada temen-temen yang bertanya, kaya gimana sih rasanya pakai kawat gigi? Mungkin juga ada yang mau pake?



Kawat gigi itu komponennya (sok keren nih bahasanya) ada bracket, karet, dan kawat. Bracket itu yang bentuknya kotak-kotak dan dipasang di gigi pake lem khusus, rasanya aseem banget. Bracket ini terbuat dari stainless steel kata dokter gigiku. Ada juga sih bracket yang terbuat dari keramik, warnanya putih, jadi nggak begitu kelihatan dan harganya lebih mahal tentunya. Terus Kalau kawatnya, terbuat dari titanium katanya. ada karet yang warna-warni itu, kecil mungil unyu gitu, tapi bermanfaat, intinya sih buat mengikat.
Lama pasang berapa lama sih? Macem-macem,tergantung kasusnya. Ada yang Cuma 1,5 tahun, 2 tahun, atau 4 tahun pun ada. Aku sebenernya dulu cuma 2 tahun, tapi gara-gara sempet jarang control jadi 3 tahun lebih deh.

Sebelum pasang, dulu tu aku dicetak dulu giginya, pake sesuatu kaya plastisin, tapi baunya kaya pasta gigi dan rasanya mint-mint gimanaaa gitu. terus dari cetakan itu kan dilumuri bahan yang bisa mengeras, terus jadi deh kaya replica gigiku. Dicetak biar tau kan susunan gigi kita kaya gimana. Oiya, gigiku juga dirontgen buat dilihat susunan dari dalam.

Dulu gigiku juga ada yang dicabut karena aku kan masalahnya ada gigi yang numpang. Temenku ada yang serem bayangin gigiku di cabut, tapi ya mesti gitu, soalnya kan butuh ruangan buat menata gigi biar lebih rapi. 
Nah, tahapan pasangnya kaya gimana? ya bracketnya ditempel satu per satu, jadi lama, mungkin memakan waktu kurang lebih dua jam. pake lem asem yang ku bilang tadi, terus disinar, sinarnya warna biru. habis itu dipasang kawat dan karetnya. Lazimnya, setiap bulan control ke dokter , malah pas dua bulan pertama aku control dua minggu sekali. kontrolnya buat ganti karet sama ada yang dikencengin.

Suka dukanya? Ini dia yang paling berkesan selama pake kawat gigi. Mungkin ada temen-temen yang ngira pake kawat gigi itu oke, semacam gigi ada perhiasan. Tapi bagiku ini sebuah alat untuk membenahi sesuatu yang tidak semestinya.

Awal-awal pasang, rasanya tuh kaya gigi pengen dilepas aja. Semua gigi kaya ditekan semua, aku dua hari nggak bisa makan.Ada cerita nih, dulu aku sehari habis pasang malah diajak guruku makan di WS, alhasil cuma bisa makan kentang goreng sama minum es jeruk. Sedih…

Pas masih bulan-bulan awal, tiap kali habis control aku juga nggak bisa makan. kan dikencengin lagi kawatnya, jadi sakit. Nggak cuma itu, nanti ada saat gigi yang harus ditarik, dimundurin, atau diapain lah, tergantung masalah masing-masing. Nah itu juga rasanya  …. Butuh kesabaran dalam menghadapi masa-masa ini.  Belum lagi, rawan sariawan. Kayaknya pas masa-masa ini aku mesti makin kurus, L
Kadang, bracket gigi suka lepas, terutama pas makan, jadi  harus hati-hati. kalau ada yang lepas, disimpen buat dipasang lagi pas control. Aku pernah kehilangan sampe dua kali itu.

Pantangan? Makan sih biasa aja, asal nggak makan yang keras-keras dan alot, bisa bikin bracket copot. Butuh kesabaran kalau kita makan daging ayam atau sapi, soalnya alamat nyangkut. Paling sebel kalau pas ini. Sikat gigi biasa aja sih, cuma rada lama, kan siapa tau masih ada makanan keselip di kawat dan bracketnya.

Sampailah pada masa stabilisasi, saat gigi kita udah rapi. jadi kalau habis control nggak galau lagi, paling kaya gigi ditekan dikit. Stabilisasi sampe beberapa bulan. Oiya, sebelumnya aku rontgen lagi, buat dilihat susunan dari dalam. Kalau di dalamnya udah oke, baru deh dilepas. Setelah dilepas, rasanya bebas :D. tapi aku nggak boleh seneng dulu. gigiku dicetak lagi, buat dibikinin retainer, yaitu penyangga. Bentuknya gimana ya, kaya kawat biasa tanpa braket dan karet.  Eh, ada juga sih yang dari plastik, plastik bening berbentuk cetakan gigi (kaya cetakan kue gitu, tapi bentuknya gigi) . kalau yang plastik lebih mahal dikit daripada yang kawat. Fungsinya buat menstabilkan lagi,biar hasilnya lebih permanen lagi. enam bulan ke depan aku pake itu.Kalau retainer bisa lepas pake sendiri. Kapan pake kapan lepas? dilepasnya kalau pas makan sama mandi aja.

Pake retainer,kayaknya bakal repot dikit. Soalnya makan dilepas,tapi harus disimpennya dalam rendaman air. habis makan dipake lagi. Alamat makin kurus nih, soalnya intensitas ngemil berkurang banyak. hiks... ngomong juga jadi rada aneh, agak cadel. 

Nah ini bentukannya, yang kawat ...


Kalau yang plastik begini



Oiya, aku saranin kalau mau pake behel gigi kalau emang bener-bener butuh, bukan karena trend atau gaya-gayaan karena modelnya yang macem-macem dan beraneka warna. Sayang banget uangnya...


Oke, itu cuma sekedar info kecil tentang kawat gigi. Semoga bermanfaat teman-teman :D Kalau mau versi lengkap, dateng ke dokter gigi terdekat ya.


Wassalamu’alaikum J



Rabu, 21 Desember 2011

Akhwat vs Cewek #1



Baru teringat akan sesuatu. Karena lagi inget, aku tulis deh..

Akhwat dan cewek, serupa tapi tak sama. Tapi, mereka tetep sama dalam beberapa hal. Salah satunya dalam hal melihat orang yang..ehm, ganteng. Siapa sih yang nggak terpesona kalau lihat bintang cakep di film?

Waktu kelas XI kemarin, temen-temen lagi heboh nonton Crazy Little Thing Called Love. Waaah,tau kan bintangnya siapa? Sebagian besar pada bilang ganteng. Buat temen-temen cewek, terdengar jeritan yang kira-kira seperti ini,

“Waaaaaah…ganteeeng bangeeet yaaa..”

Aku pikir, temen-temenku yang akhwat nggak terpesona lihat bintang film macam itu. Ternyata nggak loh. Setelah mereka nonton film itu, salah seorang temenku bilang

“Waaah,Subhanallah ya Allah itu, menciptakan makhluknya…”

Hihihi. Lucu ya. Nah, bedanya kalau cewek bilangnya begitu, akhwat begini. Kalau akhwat seterpesona-pesonanya masih memuji Allah, Sang Pencipta. kalau cewek, ya cuma memuji makhluk saja. Kalau cewek belum tentuu…Terus, nanti biasanya sih kalau cewek bilangnya, “iyaaa..dia kan pacarku.” Nah, kalau akhwat bilangnya apa? “Besok suamiku lebih ganteng kok daripada dia,” atau “Rasulullah pasti lebih tampan kok.”

Nah, sebagian temenku yang akhwat pada suka nonton film korea, sekarang yang lagi ditonton yaitu serial Sunkyunkwan Scandal. Pemainyaa cantik dan ganteng. Ya, lagi-lagi temen akhwatku bilang, “Subhanallah….” Waktu mendengarnya aku cuma ngikik. 

Akhwat sama cewek, tetep sama kok. Waktu mereka sedih,takut, seneng, terpesona, bahkan saat jatuh cinta. Perasaan yang dirasakan kira-kira sama lah. Tapi, pengekspresian dan tindakan yang dilakukan tentunya berbeda dong. Salah satunya seperti yang aku ceritain di atas. :D

Sabtu, 17 Desember 2011

Ronggeng Dukuh Paruk #1


Pernah baca novel judulnya Ronggeng Dukuh Paruk? kalau nggak gara-gara tugas bahasa Indonesia waktu kelas XI, nggak bakal baca aku. Aah, ternyata novel jadul ini cukup legendaris...bagus kok ceritanya. Sekarang di film-in, walaupun lebih menonjolkan kisah cintanya aja. Padahal nggak juga, masih ada nilai-nilai sosial dna moralnya juga. Sayang juga, nggak nonton film nya juga, gapapa deh.

Novel ini menceritakan kondisi masyarakat tahun 65 an. Ada sangkut pautnya sama PKI juga kok nantinya. Masyarakatnya ya masyarakat Jawa yang penuh intrik mistis begitu. Pekerjaan penduduk ya bertani..bisa nggambarin kan?

Oke, lanjut ke kisah novelnya, yaitu menceritakan tentang ronggeng. Apa sih ronggeng itu? Ternyata penari sekaligus pelacur. Ronggeng itu seperti sudah milik umum, jadi dia boleh ditiduri oleh laki-laki yang bisa memberinya hadiah paling mahal. Anehnya, dia dianggap bak putri di kampung. sSemua orang memuja dia. ckckckck..jahiliyah bener dah. Yang ditakdirkan jadi ronggeng adalah anak perempuan bernama Srintil. Gadis yatim piatu yang orangtuanya meninggal karena tragedi keracunan tempe bongkrek seperti orangtua teman-temannya, termasuk sahabatnya Rasus. 

Dukuh Paruk itu sendiri, adalah dukuh yang miskin dan terbelakang baik pendidikan maupun moral. Warganya pada males kerja. sama hal-hal mistiknya masih kentel banget. Satu kebanggaan dukuh ini yaitu Ronggeng...nggak ada Ronggeng, kaya nggak ada nyawanya itu dukuh. Ronggeng itu juga bukan sembarang penari, loh. Dia semacam ada arwah Ronggeng. Baransiapa yang jadi inang arwah Ronggeng, dia bisa nari. nasib inilah yang terjadi pada Srintil. Setelah diketahui diinangi arwah ronggeng, dukun desa pun melakukan semacam ritual bersama istrinya, Srintil dikasih susuk, dikasih ini, itu, bla-bla-bla, ritual yang paling medeni, yaitu ritual 'bukak klambu'. Srintil harus melepas kehormatannya pada laki-laki yang bisa memberinya harta atau perhiasan paling mahal, baru besoknya kadi ronggeng...turun ke pentas. Menari, kalau ada orang punya hajat, dia diundang buat nari.

Sementara Rasus, sahabat Srintil dari kecil, merasa amaaat kehilangan. Gimana nggak,ternyata Rasus itu memahat sosok ibu yang sudah tiada pada diri Srintil. setelah Srintil jadi Ronggeng, ya sudah, dia seperti kehilangan sosok ibunya itu. Rasus juga cinta sama Srintil. Dia merasa, Dukuh Paruk sudah merebut satu-satunya miliknya. Dia berandai-andai kalausaja dia laki-laki kaya, pasti bisa memiliki Srintil.

Rasus pun pergi, meninggalkan dukuhnya itu. Di luar dukuh, ternyata dia banyak belajar. Dia menemui banyak nilai moral dan menemui orang-orang yang lebih terdidik, lebih suka bekerja . Dia pun awalnya jadi semacam kacungnya tentara, mbawain senjatanya tentara gitu deh.  Beberapa tahun kemudian, laki-laki ndeso itu berubah menjadi tentara yang gagah perkasa. Siapa yang nggak pangling, Srintil waktu tahu Rasus jadi tentara aja langsung pangling. Apalagi Rasus menyelamatkan Srintil yang rumahnya dirampok, tambah terpesona dong...pada akhirnya, Srintil justru menawarkan diri untuk dinikahi Rasus,tapi Rasus menolak. lalu dia pergi lagi keluar dukuh. Dia merasa seperti memberikan harta untuk dukuh Paruk, yaitu seorang ronggeng.

Kelanjutannya bagaimana kah? aku belum selesai baca  buku kedua dan ketiganyanih..hehehe. Aku selesaiin baca dulu ya... Kayaknya bakal seru deh ceritanya.



.

7 7 7

Beberapa hari yang lalu, aku nonton film, 7 hati 7 wanita 7 cinta. well,well,well,,,film yang nggak begitu oke, apalagi endingnya, masih nggantung. Meskipun begitu, tetep ada sesuatu yang bisa aku petik,dan 1 hal lagi, aku pengen banget jadi dokter kaya dokter Kartini.




jadi kan ceritanya tentang dokter kandungan yang punya kalau nggak salah 7 pasien. Ada anak SMP bernama Rara yang udah hamil sama pacarnya, wanita korban KDRT bernama Lily (medeni banget mbayangin KDRT nya), wanita gemuk bernama Lastri yang belum bisa punya keturunan (dan miris ternyata dia dijadiin istri kedua sama suaminya),wanita shalihah bernama Ratna  yang punya suami pengangguran poligami lagi,pelacur yang kena penyakit di rahimnya bernama Yanti, wanita karier yang pinginnya cuma punya anak laki-laki, hmm..baru 6 wanita. barangkali yang ke tujuh dokternya kali ya?

Lihat kasus wanita yang terlibat disana, beragam. percaya atau tidak,tapi aku percaya, itu menggambarkan wanita-wanita di Indonesia maupun di belahan dunia yang lain. Dalam hal ini aku cuma ngerti dikit-dikit,tapi intinya diluar sana masih banyak wanita yang..yah, tertindas, diperlakukan nggak pantas bahkan oleh suaminya sendiri,ditipu, terpaksa menjual diri, nggak tahu makna penting sebuah kehormatan, daaan masih banyak lagi. nah, aku sukanya mbayangin kalau aku di posisi mereka, pasti sakit banget rasanya. 

Kasus pasiennya yang rata-rata korban laki-laki itu membuat dokter Kartini menganggap wanita selalu menjadi korban dan membuatnya belum mau menikah. Sosok lain yang aku juga suka, yaitu dokter Rohana, dia dokter kandungan juga. Masih muda dan powerful. Dia bilang nggak semua wanita jadi korban, walaupun sebagian besar memang iya. Akhirnya juga dokter Kartini mau menerima cinta dari seorang laki-laki yang berhasil meyakinkannya bahwa masih ada laki-laki yang baik.

Dari film ini tetep ada pelajarannya kok, jadi wanita nantinya memang harus pinter dan jangan mau dianggap lemah, tanpa harus menghilangkan sisi-sisi kelembutan atau kodrat wanita yang lainnya. uu, kok omonganku udah begini ya? sekali-kali perlu lah,

Nggak cinta sama sekolah..sedih sekali ya?


Sudah dua tahun setengah aku sekolah di teladan (terus kenapa ya?). So, udah banyak macam orang yang aku temui. Kali ini aku mau bahas temen-temen yang…ehm,nggak cinta sama sekolahnya.

Seperti apa sih rasanya. berhubung saya lumayan seneng ya sekolah disini, jadinya ya nggak tau. Mungkin ya, males berangkat sekolah, nunggu-nunggu bel pulang bias bisa pulang cepet, nggak suka memeriahkan acara sekolah (aku pun masih pilih-pilih dulu,acaranya asik apa nggak), kalau sekolah nggak punya sesuatu seperti di sekolah X, pasti pada bilangnya,”ah payah, nggak kaya sekolah X yang punya ini itu..” setengah hati gitu deeh sekolah di Teladan.malah temenku ada yang bilang begini,”aku anak teladan tapi berjiwa…tau kan yang dimaksud sekolah X? :P

Apa sih yang buat mereka nggak suka? Ada yang disuruh orangtua, ada yang gara-gara nemnya nggak cukup buat masuk sekolah X. yah, itu mah udah nasib…masuklah si anak ke teladan. Karena setengah hati dan melihat teman-teman SMPnya ke sekolah X yang dalam beberapa hal memang lebih unggul dari pada sekolah kita, membuat dia jadi broken heart.

Sebenernya, aku pengen bilang ke dia pas aku denger udah mulai njelek-njelekin Teladan .”Kenyataanya kamu disini, bukan disana. Seberapa besar cintamu ke sekolah X, toh kamu nggak diterima disana kan? Kalau nggak suka, kenapa milih sekolah ini jadi pilihan kedua? Kayaknya masih ada sekolah lain yang lebih bisa kamu terima lingkungannya daripada disini dan bisa kamu jadi pilihan kan.” Tapi ya itu, aku nggak berani. Hehehe…

Seiring berjalannya waktu, ada temen yang udah mulai menerima,ada yang mulai cintaaa banget sama teladan, ada yang yah…tetep kekeuh nggak suka sama teladan. Oke, kalau dia nggak berbuat hal macam-macam. Mirisnya kalau dia sampai merusak sekolahnya. bikin gemes…nyebai. Kalau nggak suka, pas bel langsung pulang, lakukan apa yang disuka, tapi nggak usah bawa nama dan atribut sekolah. Atau kalau orangtua ngebolehin, pindah sekolah aja. Beres kan. walaupun gemes rasanya, lama-lama kasihan juga sama mereka. Nggak enak banget berada di tempat yang nggak kita sukai dan itu 2-3 tahun lamanya.

Harus aku akui juga, di Teladan ada oknum yang nggak welcome sama anak yang memiliki karakter-karakter unik dan nggak biasa untuk lingkungan sekolah yang …you know how lah.. yang lebih welcome banyak kok. Cuma, mereka udah under estimate duluan, akhirnya makin males deh sekolah disini dan benar-benar menutup diri. Teladan justru butuh orang-orang yang memiliki warna unik, biar makin berwarna.
Lingkungan teladan emang religius, walaupun masih ada kekurangannya. Tapi, lingkungan religius ini sama sekali nggak pernah memaksakan seseorang untuk berubah menjadi orang lain. Dia tetap bebas menjadi dirinya sendiri. segala aturan yang tegas, lingkungan religius itu hanya untuk membatasi supaya mereka tidak melampau batas. hanya itu.

Satu hal lagi, apa yang masih kurang di Teladan? Banyak. Tugas siapa yang menjadikan Teladan lebih baik lagi, kalau bukan murid itu sendiri. Murid lah yang membuat sekolah dapat predikat Teladan dan muridnya juga yang akan menghancurkan citra sekolah.

So, buat temen-temen atau adek-adek yang masih…yah, nggak cinta sama sekolah. Cobalah buka hati, sedikiit saja deh…oke?
***

Rabu, 14 Desember 2011

AYAM!


Aku mau cerita pengalamanku waktu baru pertamakali ngomong, sekitar 16 tahun silam…
Kata ibuku, aku sampai umur dua tahun belum bisa ngomong. Sedih…padahal adekku umur 11 bulan aja udah pinter ngoceh,kalau aku…perkembangan bicaranya lambat. Nah, ibuku sih tenang-tenang aja, sampai suatu ketika ibuku dibilangin gini,

“Bu, anaknya belum bisa ngomong ya?”

“iya ni…”

“wah, jangan-jangan bisu ya bu?”

Sial. Siapa tuh yang ngatain aku bisu? Ibuku langsung khawatir lah, apalagi waktu itu ibuku masih muda banget, belum punya banyak pengalaman tentang anak. Haduu…sampai sekarang aku masih belum tau siapa yang ngata-ngatain aku begitu. Coba aja kalau aku tau,,,,emang aku mau ngapain ya? thinking.



Skip. Suatu hari, aku disuapin makan (sama ibu atau nenekku ya?) di depan rumah. nah, waktu lagi disuapin, ada ayam tetangga lewat, langsung aku teriak,”Ayam!” akhirnya. Ibuku pun lega, ternyata aku udah bisa ngomong. Yee, nggak jadi bisu kan? lha wong sampai sekarang aku malah suka cerita ngalor ngidul kok.

Terus aku mikir lagi, kok bisa ayam? Ya nggak tau.nah, aku kan suka banget makan ayam, kaya Upin Ipin, ayam goreng, ayam semur, gule ayam, dan ayam-ayam yang dimacem-macemin.  Jangan-jangan ayam emang udah jadi favoritku dari kecil? kan kata pertama dulu ayam…hehehe

Jadi Dokter itu, Menantang


Siapa yang pengen jadi dokter? Banyak, banget malah. Include me.



Karena itu, aku nonton code blue dan hasilnya…aku menemukan banyak hikmah dari nonton film ini. Film (lebih tepatnya dorama) mengisahkan 4 dokter muda, ya yang lagi ko-as gitu. Mereka berempat punya karakter spesial sendiri-sendiri.

Di rumah sakit mereka di departemen lifesaving, semacam departemen yang menyelamatkan korban kecelakaan. Setiap hari adaaa aja. paling-paling tidur Cuma bisa satu dua jam, malah nggak tidur sama sekali ( padahal aku tukang tidur, ya Allah…)

Satu hal yang bikin aku keinget terus si Aizawa, yang paling pinter. Sosok yang berani dan dingin banget. Suka sama mbedah-,mbedah. Dia pernah bilang,” pembedahan itu seperti olahraga,butuh banyak latihan.” Dokter seniornya bilang, intinya gini: “ kamu benar, tapi mereka itu manusia, bukan babi yang bisa seenaknya kamu bedah.”

Kalau aku merhatiin..image seorang dokter itu prestise. Iya sih, imagenya intelektual, penghasilan dokter juga rata-rata tinggi.Komplit kan? So, banyak banget yang pengen jadi dokter. Ornag tua nyuruh-nyuruh anaknya buat jadi dokter, soalnya kerjaannya terjamin. Nggak bisa memungkiri juga,..ya sudahlah.

Parahnya, pernah aku baca berita ada calon mahasiswa nyewa joki waktu SNMPTN biar lulus jadi mahasiswa kedokteran. Mau jadi dokter apaan, awal-awalnya udah nyogok. Ada issu, ada beberapa universitas yang meminta sumbangan untuk fakultas kedokteran ratusan juta. Kok jadi apa-apa duit? Ckckck..prihatin.

Sedangkan, dari film itu aku tahu bahwa jadi dokter itu…menantang, nggak sekedar prestise aja. Ya, ada nyawa orang di tangannya. Dokter adalah salah satu perantara Allah dalam menyembuhkan manusia yang sakit, pasti besok dimintain pertanggungjawabannya. Nggak bisa main-main dong ya…

Tanggung jawab moralnya tinggi. Di film itu, aku lupa yang bilang siapa, jadi dokter itu kalau kamu berhasil menyelamatkan orang, mereka akan berterimakasih padamu, tapi kalau pasienmu meninggal, kamu dibilang pembunuh. Jadi ndredeg…

Mereka juga harus mengorbankan banyak hal, termasuk urusan pribadi. Yang tadinya mau pulang, jadi nggak bisa. Memberikan yang terbaik buat pasien. Yang bikin aku nggerus, seorang dokter waktu ngasih tahu keadaan pasien yang..tragis. Hiyama misalnya,yang suka terpengaruh sama kondisi, nggak tega bilang ke keluarga pasien kalau ternyata pasien itu lumpuh total gara-gara kecelakaan. Tapi dia harus bilang walaupun pahit. Intinya, dokter harus terbiasa melihat kenyataan-kenyataan pahit yang ada di depannya.

Selain itu, dokter harus gesit, sigap (padahal aku masih lelet nih). Bayangin, waktu menangani sebuah kecelakaan, dokternya bisa dihitung jari tapi korbannya disana sini. Mereka saling berteriak minta diselamatin duluan. Siraishi, dokter yang cantik itu pun pernah bingung mana yang harus diprioritaskan. Di satu sisi, pasien itu walaupun dibawa ke dokter heli tetep nggak ngaruh (udah sakaratul maut), dan pasien yang lain harus dibawa pake dokter heli karena kemungkinan besar masih bisa diselamatkan. Akhirnya dia bisa memilih walaupun ada yang marah sama dia. Harus pinter-pinter memprioritaskan.

Cita-cita jadi dokter mulia kok,sama kaya cita-cita yang lain. Buat temen-temen (dan aku juga), yang mau jadi dokter, semoga dari hati ya. Apa mau,  belajar bertahun-tahun , baca buku tebel, tapi ilmu tidak benar benar diterapkan dari hati untuk mendapat ridha Illahi? Jangan sampai deh. :D