Rabu, 14 Desember 2011

Jadi Dokter itu, Menantang


Siapa yang pengen jadi dokter? Banyak, banget malah. Include me.



Karena itu, aku nonton code blue dan hasilnya…aku menemukan banyak hikmah dari nonton film ini. Film (lebih tepatnya dorama) mengisahkan 4 dokter muda, ya yang lagi ko-as gitu. Mereka berempat punya karakter spesial sendiri-sendiri.

Di rumah sakit mereka di departemen lifesaving, semacam departemen yang menyelamatkan korban kecelakaan. Setiap hari adaaa aja. paling-paling tidur Cuma bisa satu dua jam, malah nggak tidur sama sekali ( padahal aku tukang tidur, ya Allah…)

Satu hal yang bikin aku keinget terus si Aizawa, yang paling pinter. Sosok yang berani dan dingin banget. Suka sama mbedah-,mbedah. Dia pernah bilang,” pembedahan itu seperti olahraga,butuh banyak latihan.” Dokter seniornya bilang, intinya gini: “ kamu benar, tapi mereka itu manusia, bukan babi yang bisa seenaknya kamu bedah.”

Kalau aku merhatiin..image seorang dokter itu prestise. Iya sih, imagenya intelektual, penghasilan dokter juga rata-rata tinggi.Komplit kan? So, banyak banget yang pengen jadi dokter. Ornag tua nyuruh-nyuruh anaknya buat jadi dokter, soalnya kerjaannya terjamin. Nggak bisa memungkiri juga,..ya sudahlah.

Parahnya, pernah aku baca berita ada calon mahasiswa nyewa joki waktu SNMPTN biar lulus jadi mahasiswa kedokteran. Mau jadi dokter apaan, awal-awalnya udah nyogok. Ada issu, ada beberapa universitas yang meminta sumbangan untuk fakultas kedokteran ratusan juta. Kok jadi apa-apa duit? Ckckck..prihatin.

Sedangkan, dari film itu aku tahu bahwa jadi dokter itu…menantang, nggak sekedar prestise aja. Ya, ada nyawa orang di tangannya. Dokter adalah salah satu perantara Allah dalam menyembuhkan manusia yang sakit, pasti besok dimintain pertanggungjawabannya. Nggak bisa main-main dong ya…

Tanggung jawab moralnya tinggi. Di film itu, aku lupa yang bilang siapa, jadi dokter itu kalau kamu berhasil menyelamatkan orang, mereka akan berterimakasih padamu, tapi kalau pasienmu meninggal, kamu dibilang pembunuh. Jadi ndredeg…

Mereka juga harus mengorbankan banyak hal, termasuk urusan pribadi. Yang tadinya mau pulang, jadi nggak bisa. Memberikan yang terbaik buat pasien. Yang bikin aku nggerus, seorang dokter waktu ngasih tahu keadaan pasien yang..tragis. Hiyama misalnya,yang suka terpengaruh sama kondisi, nggak tega bilang ke keluarga pasien kalau ternyata pasien itu lumpuh total gara-gara kecelakaan. Tapi dia harus bilang walaupun pahit. Intinya, dokter harus terbiasa melihat kenyataan-kenyataan pahit yang ada di depannya.

Selain itu, dokter harus gesit, sigap (padahal aku masih lelet nih). Bayangin, waktu menangani sebuah kecelakaan, dokternya bisa dihitung jari tapi korbannya disana sini. Mereka saling berteriak minta diselamatin duluan. Siraishi, dokter yang cantik itu pun pernah bingung mana yang harus diprioritaskan. Di satu sisi, pasien itu walaupun dibawa ke dokter heli tetep nggak ngaruh (udah sakaratul maut), dan pasien yang lain harus dibawa pake dokter heli karena kemungkinan besar masih bisa diselamatkan. Akhirnya dia bisa memilih walaupun ada yang marah sama dia. Harus pinter-pinter memprioritaskan.

Cita-cita jadi dokter mulia kok,sama kaya cita-cita yang lain. Buat temen-temen (dan aku juga), yang mau jadi dokter, semoga dari hati ya. Apa mau,  belajar bertahun-tahun , baca buku tebel, tapi ilmu tidak benar benar diterapkan dari hati untuk mendapat ridha Illahi? Jangan sampai deh. :D

Tidak ada komentar: